Tempoh: 31.12.2022-1.01.2023.
Cerita: Terbuka asalkan berkaitan TAHUN BAHARU.
Panjang teks: Sekitar 1,000 perkataan.
Hadiah: RM300; RM200; RM100.

Emelkan penyertaan anda ke: GaksaAsean@gmail.com.

Selamat berjaya.

PENYERTAAN

Kami telah menerima 9 penyertaan yang berikut:

1. Moh. Ghufron Cholid. TAHUN BARU TUAN GHUF.
2. Ilya Kablam. ANWAR IBRAHIM: PMX MALAYSIA.
3. Paridah Ishak. DILEMA ISTERI PENEROKA.
4. Hamimah Ibrahim. JODOH.
5. CT Nurza. JANJI PATIN TEMPOYAK.

6. Noorlaila Ghafar. SANAH HELWAH ADIKKU SAYANG.
7. Nurimas Nuri. DALAM KOTAK ADA KATAK.
8. Salmah Amir. KASIH SARAH TIADA NOKTAH SETIAP TAHUN BAHARU.
9. Abdul Jalal HM. ANGIN TAHUN BARU.

KARYA

1.

TAHUN BARU TUAN GHUF
Oleh: Moh. Ghufron Cholid

Tiap orang tentu ingin sesuatu yang istimewa di tahun baru. Tahun yang konon menjadi titik mula dari sebuah impian yang sedang digerakkan ke dunia yang lebih nyata.

*****

Angin mulai menyapa dedaun di reranting. Begitu pelan dan sangat pelan. Kini tiba-tiba semakin kencang memperkenalkan diri. Pohon-pohon seakan enggan untuk diam. Hujan juga ikut turun dengan sangat lebatnya, seakan ingin melunasi semua rindu yang telah ditahan.

Pelan-pelan mulai kubuka gorden dan jendela, aku ingin merasakan lebih dekat malam pergantian tahun. Pergantian yang ingin ku saksikan dari jarak dekat. Lamat-lamat kubuang kegetiran yang telah lama bersarang di kedalaman bathin. Aku terus melangkah dan meninggalkan kamar masa laluku yang begitu pengap. Aku tak boleh terkurung dalam keputus-asaan, gumamku sembari mengepalkan tangan.

Aku tak boleh tunduk pada masa laluku yang kelam. Aku tak boleh berbetah dalam keterpurukan. Tahun baruku, hatiku harus baru. Aku harus hidup lebih bahagia. Aku pelan-pelan mulai menyeka airmata.

Pergi, pergilah masa laluku yang kelam
Menjauhlah rasa sedihku yang pitam

Aku mulai menumpahkan segala gemuruh yang ada di dada, biar yang tak sampai mengarsir rasa percayaku. Selamat tinggal detak waktu yang gusar, selamat datang bahagiaku yang serekah mawar.

Berulangkali aku mencoba menanam keyakinan di kedalaman diri. Aku sudah tak mau diperbudak ketakutan dan perasaan nyeri yang berkepanjangan.

*****

“Tuan Ghuf, sudah tiba saatnya bergerak!” Suara yang begitu sangat ku kenal datang menepuk pundakku dan mulai mengingatkanku tentang waktu yang telah kurancang dengan begitu matang.

“Tak usah khawatir, aku tahu yang terbaik buat hidupku.” Ucapku sesekali menatap orang yang telah berdiri di sampingku dengan sangat sigap.

“Ini masa depan yang paling menentukan dalam hidup Tuan Ghuf!”

Aku mengangguk lalu mulai menepuk bahu orang yang begitu Setiana menemaniku.

*****

Lima tahun silam, aku mendapatkan gelar seorang ayah ketika istriku melahirkan putri pertama yang lambat laun diberi nama Ashlihatul Millah. Putri mungil yang hanya beberapa jam diberi kesempatan menatap dunia untuk pertama kali. Putri mungil yang kelahirannya disambut dengan sangat bahagia. Yang dipersiapkan dengan penyambutan dengan sangat istimewa disambut dengan adzan juga iqamah dilengkapi sholawat nabi dan puji-pujian kepada Yang Maha Sempurna.

Menyandang gelar ayah adalah gelar yang sangat istimewa bagi lelaki yang sudah menikah. Gelar yang begitu ingin didapatkan oleh seseorang yang sudah memiliki pendamping hidup yang diawali dengan ikatan suci.

*****

Ashlihatul Millah
Putri mungil pengobat gelisah
Kehadiranmu menjadi pelengkap
Bagi bahtera hidup yang penuh degup
Kehadiranmu nama lain kebahagiaan
Nama lain surga yang tak dapat diuraikan
Dengan diksi-diksi di tiap bait puisi

Ashlihatul Millah
Kau alasan aku bertahan
Tegar menaklukkan
Segenap kegetiran
Yang bersarang di kedalaman bathin

Aku lupa
Pada perih penantian
Aku lupa

Seberapa banyak peluh dan airmata
Yang telah lama
Merias hidupku
Dan

Orang istimewa yang kusebut istriku

*****

“Maaf seribu maaf Tuan Ghuf, putri anda telah meninggal!” ucap bidan yang membantu proses kelahiran putriku.

Aku bagai disambar petir, keteguhanku sebagai seorang lelaki mulai goyah. Aku pelan-pelan mengepalkan tanganku. Mengumpulkan segenap keberanianku dan mulai bersuara, jangan bercanda, putri mungilku masih hidup. Putri mungilku tidak mungkin secepat ini pergi meninggalkanku. Kelahirannya sangat kutunggu. Sangat ditunggu juga oleh istriku. Jangan pernah bercanda dengan nyawa seseorang dengan mengucapkan begitu mudah telah meninggal.

Aku terus berucap dan tak kubiarkan bidan itu berkata sepatah katapun. Aku ingin mengobati rasa pedih-perihku.

“Relakan Tuan Ghuf, ini sudah suratan takdir!”

“Putriku adalah milikku. Milik istriku. Mustahil meninggal begitu cepat!”

“Kami sangat mengerti anda dan keluarga anda takkan begitu mudah percaya dengan kabar ini. Namun inilah kenyataan yang mesti anda terima. Suka atau tidak suka kematian adalah hal yang pasti terjadi pada tiap insan. Anda harus merelakan. Putri anda
bukan hanya milik anda dan istri anda. Ada yang lebih berhak dari anda dan istri anda yakni Tuhan. Tak ada yang bisa melakukan tawar menawar tentang kematian. Kematian selalu datang tepat waktu. Ia tidak bisa disogok dan anda harus sadar itu!”

Aku mulai tersentak. Aku mulai kehilangan keseimbangan. Aku bagaikan kapas diterbangkan angin. Aku kehilangan arah tujuan.

“Tuan Ghuf, semua hanya titipan. Kita hadir dalam hidup ini hanya memainkan peren yang telah ditentukan. Tak ada yang benar-benar mampu menebak masa depan. Tak ada yang tahu dalam satu detik kedepan, barangkali detik ini putri anda yang meninggal
duluan, bisa jadi kami, bisa jadi Tuan Ghuf yang akan meninggal. Jangan menjadi seorang yang kenak-kan akan!”

*****

Ashlihatul Millah
Demikian aku menamaimu
Tabarrukan pada putri Kiai
Berharap hidupmu lebih lama

Lebih bisa menikmati hidup dengan segala pernak-prniknya

Namun apalah daya
Aku hanya manusia
Yang serba tak bisa apa-apa
Di hadapan takdirNya

Sebagai ayah
Tentu aku lebih suka

Hidupmu lebih lama dan lebih bahagia dari hidupku
Namun sebagai manusia yang bertuhan
Aku harus bisa melepasmu dengan doa
Semoga ada pertemuan
Yang dapat mengobati perih duka di sukma

*****

Aku terus melangkah dengan penuh kegetiran. Berulangkali aku tertatih dan berulang kali pula ingin jatuh, ketika mengantarkanmu ke pemakaman setelah sholat jenazah untukmu dilakukan. Meski berat melangkah, aku ingin terus berjuang mengantarmu ke tempat istirah, tempat aku berkaca bahwa tak ada kehidupan yang benar-benar abadi. Di hadapan ribuan mata, aku mencoba seteguh karang, terlebih di hadapan ibu. Seorang lelaki tak boleh memperlihatkan kesedihan yang begitu dalam. Bagaimana pun terlukanya hati ini, aku tak boleh terlihat rapuh di hadapan ibumu, meski hati ini tak bisa dipungkuri menjerit berulangkali sebab kehilanganmu.

Dengan tangan ini, kehadiranmu kusambut begitu bahagia, dengan ditandai adzan dan iqamah. Dengan tangan ini pulalah, kuantarkan kau menuju tempat yang lebih abadi, tempat yang menjadi titik mula pertemuanmu dengan cinta paling sejati. Cinta yang tak mengenal kata tapi juga tepi. Cinta yang tak pernah menakar untung rugi.

*****

Mari, mari kita ucapkan selamat tinggal masa lalu
Mari, mari kita ucapkan selamat tinggal kesedihan
Mari, mari kita ucapkan selamat tahun baru
Selamat datang cinta yang tak mengenal pilu

Aku kembali melangkah setelah melukiskan pada secarik kertas, setelah mengisahkan hidupku. Aku melangkah dengan begitu tegap dengan mata yang lebih berbinar. Aku mulai melupakan segala bentuk alarm duka yang pernah kutemui. Aku mulai berbisik pada hatiku, hidup ini terlalu murah jika hanya diisi dengan alamat-alamat duka. Hidup ini begitu sebentar maka yang sebentar ini begitu sangat berharga jika dilapisi dengan rasa percaya bahwa aku hidup bukan untuk berduka melainkan untuk menikmati kelezatan cinta bersama Maha Cinta.

*****

Pelan-pelan matahari terbit dengan begitu ceria dan hatiku kembali segar bugar. Tahun-tahun yang penuh luka mulai berlarian dan akupun lupa pada segenap alamat airmata.

Sampang, 1 Januari 2023

2.

ANWAR IBRAHIM: PMX MALAYSIA
oleh Kablam22

Persamaan Linear

P(M) = 1/X
PMX =1

“Reformasi!”

“Reformasi!”

Masih terngiang-ngiang sorakan suara rakyat dan gema semangat yang dipelopori oleh Anwar Ibrahim dari tahun 1998 ini, yang menggegar naluriku sehingga ke ambang 2023 ini.

Dari penjara, takdir dan usaha yang berterusan, berjaya mengangkat beliau ke Putrajaya. Pada tahun ini, hari ini, bermulanya tahun baru 2023, dengan seorang Perdana Menteri yang juga telah diperbaharui melalui proses demokrasi. Malaysia mula direformasikan selepas sebuah sesi pilihanraya berlangsung hampir dua bulan yang lalu, 19 November 2022. Tahun 2023 menyaksikan harapan rakyat terus menggunung dan bakal direalisasikan oleh seorang Perdana Menteri yang ditunggu-tunggu, juga dicemburu. Pelbagai fitnah dan mehnah tegar menghiasi media tentang sosok manusia bernama Anwar Ibrahim sampai ke hari ini.

Sebagai peminat subjek matematik, pemikiranku lebih ke arah penyelesaian masalah harian dan tidak terfokus ke arah pendapat berbentuk kualitatif mahupun pandangan subjektif dalam memahami taktik dan strategi dalam permainan kehidupan. Bagiku, politik adalah salah satu permainan manusia yang tidak berkesudahan untuk mencapai sebuah kemenangan. Aku sentiasa cuba menganalisis personaliti manusia menggunakan kaedah pengiraanku sendiri. Begitu juga caraku dalam menganalisis peristiwa yang berlaku disekelilingku. Misalnya, mengapa masa 24 tahun diambil untuk PMX Malaysia sampai ke Putrajaya dari penjara? Mengapa Anwar Ibrahim akhirnya menjadi PM yang ke-10, bukan yang ke-7, ke-8, mahupun ke-9?

Seperti yang kukatakan pada mula catatanku pada 1 Januari 2023 ini, datangnya tahun baru ini, adalah dengan dipimpin oleh PM Malaysia yang baru. PMX ingin memfokuskan jentera kepimpinannya untuk membangun ekonomi agar dapat menarik pelabur luar negara untuk memastikan pertumbuhan Malaysia cepat dan pesat. PMX mengadakan sambutan tahun baharu 2023 bersama rakyat dengan solat hajat dan program munajat. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh mana-mana Perdana Menteri Malaysia sebelum ini!

P(M) = 1/X
PMX =1

Merujuk kepada persamaan linear yang kulakarkan dalam buku notaku tadi, sekiranya X mewakili 30 juta rakyat Malaysia, PMX adalah satu-satunya individu yang mewakili semua rakyat Malaysia dan beliau barangkali satu-satunya Perdana Menteri yang ditakdirkan Tuhan untuk menyatukan hati rakyat Malaysia yang berbilang kaum dan agama ini.

Aku terus melayan fikiranku di awal tahun baharu 2023 dengan pelbagai pertanyaan yang kureka sendiri. Kecewakah kami sekiranya PMX bukan individu yang diharapkan? Kecewakah kami sekiranya kemenangan tidak berpihak kepada parti yang diwakili PMX tempoh hari? Menyesalkah kami sekiranya membiarkan diri kami dirugikan oleh kejahilan sendiri dengan tidak mengundi?

Yang pasti, tahun baharu 2023 menyaksikan negaraku mempunyai seorang Perdana Menteri yang tidak menghalalkan rasuah, tidak membenarkan penjawat awam menerima sebarang hadiah atau saguhati yang diberi oleh pihak lain, dan juga seorang Perdana Menteri yang tegas membatalkan sambutan tahun baharu rasmi tahun 2023 yang dihiasi kemeriahan letusan bunga api seperti di negara luar. Malam tahun baharu 2023, bangunan gah KLCC di Kuala Lumpur dan kawasan awam seperti Dataran Merdeka tidak lagi dihiasi gegak gempita bunga api selama 10 minit seperti yang lazim dilakukan sebelum ini, tiada sorakan “Happy New Year” oleh para muda mudi yang berpesta di jalanan, seperti di negara luar yang lain.

Di Kuala Lumpur, letusan bunga api tetap kedengaran dan kelihatan di kawasan-kawasan perumahan yang sibuk, namun semuanya dianjurkan oleh pihak swasta dan secara persendirian. Begitu juga di negeri-negeri lain di Malaysia, semuanya dianjurkan sendiri, kerana kerajaan pusat berpendirian tegas untuk membuat sambutan tahun baharu dengan majlis ilmu, yang bertempat di Masjid Putra, Putrajaya, dinamai sebagai program Munajat Ambang Tahun Baharu 2023. Amanat penting yang ditegaskan kepada para hadirin pada malam tersebut ialah Malaysia bukan tempat para pemimpin menggondol kekayaan juga bukan tempat mencari helah untuk menerima komisen! Betapa pedasnya pesanan sedemikian, namun tetap disampaikan oleh pemimpin yang berperibadi itu, demi memastikan pentadbiran yang bersih serta tatakelola pengurusan awam yang lebih
meyakinkan oleh jentera kerajaan Malaysia yang baharu.

Aku yang sudah terbiasa melihat letusan bunga api dari balkoni rumahku, termenung seketika memikirkan masa hadapan pemikiranku. Padaku, aku tidak perlu terlalu memikirkan tentang pendapat orang lain atau cara orang lain berfikir, kerana skop itu terlalu luas bagiku. Biarlah itu menjadi tanggungjawab mereka untuk membentuk pemikiran mereka sendiri mengikut persekitaran dan tahap ilmu yang telah ditakdirkan Allah untuk mereka. Apakah perubahan yang bakal kulakukan terhadap cara pemikiranku tahun ini? Sepanjang 41 tahun aku dianugerahkan kehidupan di bumi ini oleh Ilahi, aku agak berpuas hati dengan cara aku mengendalikan kehidupanku. Sentiasa terbuka dengan perubahan-perubahan yang baik, dan sentiasa menerima idea-idea sekeliling dari orang lain yang kuanggap dapat memberi manfaat kepada kehidupanku. Dalam hidupku, aku sering berpeluang melakukan apa yang kuinginkan dan dengan pengalaman itu, pemikiranku telah dibentuk oleh rintangan dan kesenangan yang datang sebagai ujian.

Dalam ruang fikirku, di malam tahun baharu 2023 ini, seperti lumrah manusia yang tidak akan pernah puas dengan apa yang dimilikinya, otakku terus ligat berfikir merancang kesempurnaan dan kebaikan yang lebih untuk masa hadapanku. Limpahan dan timbunan maklumat dari media sosial yang mengasak otakku setiap hari, memberi ruang dan peluang untuk pemikiranku diisi dengan menimbangtara sogokan idea daripada pelbagai akaun media sosial yang memerlukan aku untuk menapis dan menangkis setiap serangan visual yang diasak masuk ke minda bawah sedarku yang seringkali bergelut dan mempengaruhi keperibadianku sendiri sebagai seorang Muslim.

Lalu pada hari pertama tahun baharu 2023 ini, aku memilih untuk menajamkan kembali fokusku terhadap apa yang penting dalam hidupku. Agar 5 hingga 10 tahun ke hadapan dalam hidupku nanti, aku akan berpuas hati dengan pencapaian peribadiku secara rohani dan jasmani. Sebagai permulaan, aku telah membuat keputusan untuk berfikir tentang PMX pada 1 Januari 2023 ini;

P(M) = 1/X
PMX = 1

Apabila x mewakili 30 juta rakyat Malaysia, PMX adalah satu-satunya individu yang mewakili semua rakyat Malaysia dan beliau barangkali satu-satunya Perdana Menteri yang ditakdirkan Tuhan dengan diberi peluang pada tahun 2023 ini, untuk menyatukan hati rakyat Malaysia yang berbilang kaum dan agama, bagi memantapkan peribadi dan ilmu rakyat ke tahap yang lebih tinggi. Semoga niat beliau untuk memacu pertumbuhan ekonomi dengan lebih meyakinkan untuk negaraku ini, akan tercapai. Bismillah.

Kablam22
Ahad, 1 Januari 2023
12:39 p.m.

3.

Peserta: Paridah Ishak

DILEMA ISTERI PENEROKA

“Suka saya tengok kawan saya yang dah lama menjanda, la ni dah jadi isteri peneroka. Hidupnya nampak senang-lenang, mewah makan minum, banyak duit, tinggal kat rumah batu…berbanding saya yang tinggal kat rumah buruk tepi laut yang duk kerja setiap hari menjemuq ikan di pengkalan nelayan.”

Kak Ziah tersengih saja mendengar komen anak saudaranya yang baru tiba dari Kuala Muda ke rumahnya semalam dengan menaiki bas. Safura ke situ untuk menziarahi emak saudaranya itu dan keluarganya pada akhir Disember 2022. Emak sudaranya itu tinggal di sebuah skim FELDA di situ.

“Senangnya sekejap saja tu.” Selamba sahaja Kak Ziah menuturkannya.

“Apa maksud Mak Long?” Safura keliru pula.

“Cuba Mak Long bagi tau sat kat Cek supaya Cek faham.” Safura membahasakan dirinya sebagai ‘Cek’ iaitu sebutan penghormatan pada yang lebih berusia daripada dirinya dalam loghat utara ketika bersembang.

“Kawan hang tu kahwin dengan peneroka yang duda. Selagi laki dia tak mati, senanglah dia. Bila laki dia dah mati, anak-anak dia dengan arwah bini dia yang tertulis dalam surat perjanjian masa nak jadi peneroka akan mai ambil balik semua reta laki dia. Apa dia nak tuntut? Kawan hang tu bukan ada reta sepencarian dengan laki dia. Semua reta yang ada diperolehi dengan arwah isteri pertama. Sudahnya kawan hang tu terpaksa balik kampung jugak.” Jelas Mak Longnya dengan yakin justeru dia adalah isteri peneroka yang tidak kering peluh bekerja di kebun sawit bersama suaminya. Tentulah dia ada harta sepencarian dengan suaminya. Sekiranya suaminya meninggal dunia lebih dahulu dia akan beroleh hak mengurus lot tanah kebun sawit sebagai pewaris kerana FELDA telah menetapkan begitu dalam surat perjanjian yang di tandatangani sebelum memasuki skim FELDA.

“Setelah isteri meninggal dunia, anak-anak pula akan tanda tangani surat perjanjian pengurusan lot kebun dan memilih soghang yang layak di antara depa selaku wakil. Hasilnya kelak menjadi sebagai pusaka yang mesti dibahagikan sesama depa.” Kak Ziah menjelaskannya lagi pada anak saudaranya itu.

“Adalah sedikit reta faraid bahagian balu peneroka. Tapi manusia dengan reta dunia selalunya tak jujoq. Langsung tak boleh percaya sangat. Adalah soghang dua yang amanah. Sanggup depa bagi adil kat emak tiri depa.”

“Lagu tu ka Mak Long?”

“Lagu tu la cek oi. Hang tak percaya ka? Selama aku duk sini lama dah, itulah yang aku duk tengok berlaku. Hang tak payahlah nak berangan nak kahwin dengan peneroka walau hang ni janda. Baiklah hang kerja jemuq ikan tu…duit yang dapat duit kalau hang .tak habis nak makan boleh saja simpan. Tiap tahun hang boleh berjalan-bercuti mai rumah aku…banyak dah yang aku dengaq cerita bini baru terpaksa jaga peneroka yang sakit terlantaq…lepas tu mai anak-anak tiri halau dia dari rumah bila ayah depa dah mati…kesian kan.” Kak Ziah berjeda.

“Awal tahun baru 2023 FELDA dah tetapkan akaun bersama pulak bagi suami isteri yang berpisah tapi masih berhak menuntut hasil lot kebun sawit. Macam-macam masalahnya jadi isteri peneroka ni cek oi. Nampak senang di mata saja. Masing-masing
ada kereta, rumah pun besaq. Tapi cabarannya pun besaq jugak cek. Tak taulah Mak Long nak habaq kalau tak sabaq.

“Tapi kalau dah jodoh nak buat lagu mana kan Mak Long…” balas anak saudaranya itu. Emak saudaranya hanya memandangnya sinis.

“Ikut suka hanglah kalau duk pikiak lagu tu. Tapi kalau terpaksa mengadap segala masalah yang Mak Long dah habaq kat hang tu jangan pulak nak salahkan takdiaq. Sebagai orang tua Mak Long cuma bagi peringat.”

Kak Ziah kembali ke dapur untuk menyiapkan hidangan makan tengah hari suaminya yang akan pulang dari bekerja di kebun sawit. Meninggalkan Safura di serambi sendirian memikirkan kata pesanannya.

TAMAT.

Glosari:

Soghang – seorang
Pikiaq – fikir
Mai – datang
La ni – tika ini
Menjemuq – menjemur
Reta – harta
Lagu tu – persis itu
Jujoq – jujur
Habaq – khabar
Besaq – besar
Takdiaq – takdir
Peringat – mengingatkan
Sabaq – sabar
Depa – mereka
Cek – saya
Hang – awak
FELDA – Federal Land Development Authority – Lembaga Kemajuan Tanah
Persekutuan.

4.

JODOH
Oleh: Hamimah Ibrahim

Persahabatan antara Seri dan Rasyid telah terjalin semula lebih dari setahun setelah masing- masing bertaraf solo.

Seri seorang balu dan telah kematian suami sepuluh tahun yang lalu. Suaminya arwah Razi meninggal dunia ketika berusia 57 tahun, terjatuh setelah selesai solat fardu asar ketika itu dan Seri waktu itu berusia 55. Mereka berdua, Seri dan suaminya adalah pesara kerajaan. Ketika itu semua anak-anak mereka seramai 4 orang, 2 lelaki dan 2 orang perempuan masing- masing telah berkahwin dan mempunyai anak-anak yang masih kecil. Semua mereka tinggal di rumah sendiri, tidak ada yang tinggal bersama dengan Seri. Setelah kepergian Razi ,setiap hujung minggu mereka akan berkunjung menziarah Seri. Kadang-kadang mereka membawa Seri pergi bercuti bersama mereka. Hari-hari selebihnya Seri tinggal sendirian bertemankan sebuah radio dan peti televisyen sebagai teman sunyi. Rutin hariannya masih seperti suri rumah lain kerana dia masih perlu makan, pakai dan tidur dengan selesa. Selama 10 tahun jugalah begitu gaya kehidupannya. Sunyi memanglah sunyi. Lantaran sudah terbiasa Seri sudah tidak kisah. Seri tidak pula mahu tinggal bersama anak-anak. Dia lebih selesa dengan keadaan rumahnya sendiri.

Begitu juga dengan Rasyid, juga bapa tunggal yang kematian isteri sejak dua tahun lalu. Isterinya meninggal dunia akibat penyakit kanser rahim. Sebelum meninggal Rasyid bertahun juga telah menjaga isterinya dengan baik sekali. Dialah yang memandikan, mencuci najis berak kencing ketika isterinya telah berada di hujung hayat tidak berdaya terbaring di atas katil.

Dengan kehendak Allah SWT mereka, Seri dan Rasyid dipertemukan di sebuah majlis perkahwinan. Sesungguhnya pertemuan yang tidak di duga. Sebenarnya Rasyid dan Seri merupakan bekas tunangan. Pertunangan mereka telah diputuskan oleh ibu Seri sendiri kerana tidak sabar menunggu Rasyid ketika itu masih dalam latihan di sebuah Pusat Perguruan. Seri dikahwinkan degan Razi pilihan ibunya. Sedangkan Rasyid juga sebelum ini adalah pilihan keluarga. Seri seorang anak yang taat hanya menuruti kemahuan ibunya.

Pertemuan semula antara Rasyid dan Seri melahirkan satu macam perasaan. Timbul rasa sayu mengenang kisah lama mereka. Rashid juga seperti Seri tinggal bersendiri. Beliau mempunyai 6 orang anak dan yang duduk berasingan.

Anak-anak Rasyid sudah lama mahukan bapa mereka berkahwin semula. Mereka kasihan melihat bapa mereka yang keseorangan sekian lama. Selama arwah ibu mereka sakit Rasyid sudah banyak berkorban menjaganya. Mereka telah bersedia untuk meminang Seri sebagai pasangan ayah mereka setelah dapat tahu kisah sebenar dari Rasyid.

Berbeza dengan anak-anak Seri, mereka menentang keras setelah tahu perhubungan Seri dengan Rasyid.

“Emak, mak dah lupakan abah ke?”
“Emak, selama ini susah senang dengan arwah abah, sampai hati nak nak lupakan begitu saja”
“Emak, tak cukupkah dengan kita orang beri wang ringgit selama ini?”
“Emak, kita orang tak sangka mak masih pentingkan duniawi”
“Kalau nak nak kahwin juga, kita orang tak nak masuk campur”.
“Kahwinlah nak, kalau kami tahan kami berdosa, tapi memang kami tak boleh terima.”
“Mak ni, patutnya mengaji, sembahyang saja bukan ingat kahwin.”

Tersentak, terkejut sungguh Seri mendengar kata dan hinaan yang tidak disangka akan keluar dari mulut anak- anaknya. Dia malu sangat. Tergamak anak-anaknya mempersendakan dirinya. Anak-anak tidak faham tujuan orang tua berkahwin bukan kerana nafsu. Dia sedar usianya sudah menginjak 65 tahun. Sudah lewat senja.

Sudah 10 tahun jadi balu, sebelum ini bukan tak ada yang merisiknya tapi setianya pada arwah Razi dan Seri sendiri banyak membantu anak-anak dalam menjaga cucu-cucu, dia menolak risikan mereka.

Seri sewaktu mudanya memang cantik dan bayangan kecantikannya masih terserlah biarpun usianya sudah banyak benar angkanya.

Di antara empat orang anaknya hanya anak lelaki bongsu sahaja yang menyokong niatnya untuk bernikah semula. Anaknya yang bernama Syah itu berjanji akan berusaha untuk menyatukan emaknya dengan Rasyid pada awal tahun baharu 2023 ini. Seri sendiri bertekad menerangkan dan bertegas untuk menerangkan mengapa dirinya yang seusia itu hendak bernikah dengan Rasyid. Bukan kerana nafsu dunia. Dia perlukan kawan untuk berbual, bercerita menghilang kesunyian Dia perlukan seseorang bersama tatkala dia sakit demam bukan menanti kedatangan anak yang menjenguk seminggu sekali. Dia perlukan lelaki sebagai imam. Dia mahu ke masjid, mengaji bersama . Dia sudah penat terperuk bercakap dengan dinding. Ketika malam menjelang bersedih sendiri. Di kala hujan ribut di menggigil ketakutan sendirian. Dia mahu ada orang menegur tatkala tajwid bacaan al-Quran tersalah. Dia tidak perlukan restu anak-anak untuk berkahwin lagi. Mengapa anak-anak perlu menghalang, sedangkan jodoh, ajal maut di tangan Tuhan. Allah yang menentukan segalanya.

Seri akan terus berdoa agar anak- anaknya lembut hati dan faham keadaanya. Betul dia sayangkan arwah Razi, tapi Razi sudah tiada dan dia dalam kesunyian dan rasa takut tinggal sendirian dalam usia lewat senja itu sendirian. Hasratnya untuk mendapat teman hidup baru, akan tertunai awal 2023 ini. Insya-Allah, dan niatnya itu adalah kerana Allah.

Tamat.


5.

JANJI PATIN TEMPOYAK

CT NURZA
Selangor, Darul-Ehsan.

Azam berganti azam. Begitulah setiapkali tahun baharu menjelang tiba. Semangat yang berkobar-kobar pada awal tahun, hanya tinggal semangat yang cuma hangat-hangat tahi ayam akhirnya. Payah benar untuk istiqomah mencapai impian, dek kerana disiplin diri yang tidak terurus. Masalah disiplin ini merupakan masalah kebanyakan orang lain juga. Bukan aku sahaja.

Semalam, ketika mendengar bunyi letupan mercun dilepaskan di luar rumah, sebaik dentingan jam tepat 12:00 tengah malam, aku mula berkira-kira memasang tekad. Tekad untuk mencapai segala apa yang kuimpi. Banyak perkara yang inginku laksanakan pada tahun 2023 nanti.

Antaranya, aku mahu lebih gigih lagi menghasilkan karya-karya berimpak tinggi seperti rakan-rakan seperjuanganku yang lain. Aku akan cuba buat yang terbaik. Itulah Impian dan harapanku.

Dalam aku sibuk-sibuk memikirkan tentang aspirasi dan gagasan masa depanku sendirian, tiba-tiba telefon bimbitku berbunyi nyaring. Aku melihat di skrin telefon siapakah gerangan yang memanggil waktu itu.

Alamak! Baru aje aku nak berkhayal melayan angan-angan, sahabat baikku dari utara tiba- tiba memanggilku di talian. Potong mood betul nampaknya. Aku tersenyum sendiri sambil menyambut mesra panggilannya.

“Assalamualaikum, Sitie. Apa habaq?” soalnya, pekat dalam loghat Kedah.

Aku menjawab dengan mesra memberitahu akan keadaan diriku. Dia kemudian bercerita perihal keadaan cuaca dan juga perihal keluarga serta dirinya. Aku pun mendengar penuh minat sambil sesekali mencelah perbualan kami.

“Hang bila nak balik kampung, Sitie? Mana ikan patin saya? Dah tak sabar nak rasa ikan patin dan gulai tempoyak orang Pahang ni. Mesti sedap,” ujarnya, ceria.

Aku tersentak. Aha, itulah dah dua tahun aku janji nak kirim ikan patin kepadanya. Namun sehingga kini, ikan patin pun tak nampak bayang kerana aku sendiri pun dah berhijrah ke Kuala Lumpur sejak lima bulan lalu.

Mana mungkin aku mencari ikan patin Sungai Pahang yang diingininya. Alahai, kasihan sahabatku itu. Janji yang kutabur sekian lama dah macam janji capati kini. Kejamnya aku menyeksa liurnya untuk mencicip gulai patin masak tempoyak yang menjadi kegemarannya.

Apa pun aku masih ingat tentang janji tersebut. Aku akan cuba tunaikan juga apabila aku sudah berjaya mendapatkan ikan patin yang dikehendakinya itu nanti. Bukan aku sengaja mahu membuatkan sahabatku itu kempunan, tapi itulah… aku pun terpaksa berurusan dengan rakan lain juga untuk mendapatkan bekalan ikan patin Sungai Pahang yang original Itu demi seorang sahabat baikku. Insya-Allah.

Makanya, pada tahun 2023 ini aku bertekad untuk mengotakan janji-janji yang tertangguh sebelum salah seorang daripada kami pergi tak kembali. Maafkan aku sahabat, kerana janji Itu membuatkan dirimu tertunggu-tunggu. Sesungguhnya bukan niatku begitu. Aku akan cuba semampunya untuk memenuhi permintaanmu. Insya-Allah dengan izinnya kelak.

Perbualan selama hampir satu jam lebih Itu, kami akhiri dengan berbicara soal karya dan dunia Penulisan masing-masing. Tahniah! Atas kecemerlanganmu sahabat, kerana berjaya dinobatkan sebagai salah seorang pemenang hadiah Sastera Negeri bagi kategori novel Kanak-Kanak. Semoga terus cemerlang dalam karier yang diceburi.

Bukan mudah untuk menempa nama dalam dunia Penulisan jika tiada karya terbaik yang mampu bersaing secara sihat di pentas-pentas terhebat. Justeru, aku harap kita sama-sama kental dan kuat untuk terus berjuang menghasilkan karya-karya bermutu yang .menepati kehendak dunia Sastera masakini. Teruskan perjuangan walau sebagai wira tak didendang.

6.

SANAH HELWAH ADIKKU SAYANG
Oleh: Noorlaila Ghafar

“Sanah helwah adikku sayang. Semoga Allah SWT kurniakan kepada Norrafeah anak-anak yang ramai dan soleh. Harta yang banyak dan berkat. Usia yang panjang dalam mentaati-Nya.” Selesai menaip aku menekan butang hantar, dalam group whatsapp adik-beradikku.

Hari ini 1 Januari 2023, ulang tahun kelahiran adik perempuan bungsu Norrafeah. Aku mendoakan adikku, dengan doa daripada riwayat sahih. Nabi Muhammad saw mendoakan anak angkatnya Annas bin Malik dengan doa ini. Aku juga mengamalkan doa ini
untuk anak-anakku. Semoga Allah makbulkan doaku, sebagaimana Allah makbulkan doa baginda.

Aku membaca aksara-aksara yang telah dihantar oleh beberapa orang adikku. Mereka menghantar ucapan “Selamat Hari Lahir” dengan iringan setulus doa kepada adik perempuan bungsu kami itu. Ada yang menghantar emoji kek dan bunga. Meriah group
whatsapp adik-beradik pagi ini. Pagi ini menyambut kehadiran tahun baru 2023 dan menyambut hari lahir Norrafeah.

Norrafeah membalas whatsapp kami adik-adik beradik dengan ucapan terima kasih dan syukur.

“Eh Kak, tak naklah beranak lagi, dah tua. Cukuplah tiga orang putera tu. Hahaha…” Norrafeah membalas tulisan adiku Norazwanah, yang mendoakan bertambah zuriat.

“Mana tahu, Allah kurniakan seorang puteri pulak. Hehehe…” Aku turut mencelah.

Walaupun kami berjauhan, group whatsapp dan vedio call menghubungkan silaturrahim. Masya Allah. Alhamdulillah.

Setiap kali tiba Satu Januari, pasti mengimbau kenangan. Nostalgia 53 tahun yang lalu, bagai bergentayangan di ruang mata. Dalam hening dinihari, nenek mengejutkan aku yang sedang lena. Ketika itu, usiaku baru 13 tahun. Sebagai anak sulung, nenek meminta aku menjaga adik-adikku Noraudhah dan Noriah yang masih kecil. Masing-masing berusia empat dan tiga tahun. Aku mengajak mereka tidur dalam kelambu di bilikku.

Nenek masuk ke bilik emak. Aku difahamkan emak sakit hendak bersalin. Bapa keluar mengayuh basikal meredah gelap dan dingin dinihari dengan bantuan cahaya lampu picit. Bapa hendak ke klinik desa di kampung sebelah, jauhnya kira-kira tiga kilometer dari rumah kami. Setengah jam kemudian bapa muncul dengan membawa bidan kampung. Bapa memaklumkan klinik desa tutup, jururawat bercuti sempena tahun baru. Oleh itu bapa hanya mengambil bidan kampung sahaja.

Beberapa minit kemudian, telingaku menangkap suara tangisan bayi dari bilik emak. Aku mendengar suara bapa melaungkan iqamah. Nenek memaklumkan kepadaku, emak selamat bersalin, seorang bayi perempuan. Syukur Alhamdulillah. Bayi perempuan itulah, bapa namakan Norrafeah.

Kemudian bapa bergegas ke masjid di kampung kami. Sayup-sayup kedengaran suara bapa melaungkan azan, menandakan waktu Subuh tahun baru 1 Januari 1971. Rutin bapa sebagai siak masjid, melaungkan azan lima kali sehari. Pada hari-hari cuti sekolah, aku dan adik-adik lelakiku, Abdul Jalil dan Mohamad Aluwi sering membantu bapa membersihkan masjid. Menyapu, mop lantai, vacuum permaidani dan mencuci tandas masjid.

Kehidupan mendewasakan kami. Setelah masing-masing berkerjaya dan berumah-tangga kami berpisah. Aku berpindah ke Besut Terengganu, mengikut suami. Abdul Jalil bertugas sebagai polis di Batu Pahat, Johor. Muhamad Aluwi menetap di Pajam, Negeri
Sembilan. Noraudhah bertugas di Universiti Malaya. Noriah sebagai guru agama di Putra Jaya. Norrafeah dan Norazwanah masih menetap di Sabak Bernam mengikut suami masing-masing.

Walaupun jarak memisahkan kami, hubungan kami amat akrab. Walaupun nenek, bapa dan emak telah tiada kami sering bertemu. Saling berkunjung dan berziarah. Ketika negara dilanda convid-19 dan Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) dilaksanakan, kami tidak dapat bertemu secara bersemuka.

Hikmah PKP kami sering bertemu dalam majlis ilmu dalam talian. Setiap malam Isnin dan Selasa, selepas solat Isyak kami bertemu dalam vedio call. Kami bertadarus, satu juzu setiap minggu. Khamis malam Jumaat pula, kami bertadarus surah al Kahfi, juga dalam vedio call. Kami memperdengarkan bacaan masing-masing secara bergilir-gilir. Cara ini dapat membaiki bacaan al Quran kami. Jika ada kesilapan dalam bacaan, makhraj huruf dan tajwid, kami saling menegur dan membetulkan bacaan. Alhamdulillah.

Setiap hari Sabtu, aku menyampaikan taddabur al Quran dalam google meet. Adikku Noriah mengajar kami tajwid setiap hari Ahad. Walaupun PKP telah berakhir, rutin majlis ilmu dalam talian tetap diteruskan. Subhanallah, indahnya santunan Allah. Semoga tahun baru 2023 majlis ilmu adik-beradikku dalam talian dapat diteruskan. Allahumma Amiin.

TAMAT.

7.

DALAM KOTAK ADA KATAK

Telefon mudah alih itu tidak pernah jauh daripada tangannya. Walaupun kelihatan telah lusuh kulitnya, namun itulah yang menjadi teman setia. Gaya hidup sekarang yang amat bergantung dengan gajet seperti itu tidak dapat dipisahkan dalam hampir semua urusan harian.

Qaira mengambil perantinya dan mula mengakses bahan dengan enjin carian Google.Sebentar sahaja dia kelihatan angguk-anguk tanda menemui sesuatu. Itulah kecanggihan zaman sekarang, maklumat hanya di hujung jari!

Nadzatul Qaira, seorang pelajar Universiti Awam (UA), Diploma Pentadbiran Awam. Jurusan yang sememamgnya dipilih sendiri kerana banyak faktor, antaranya kerana keluarganya yang selalu terkesan dengan bahana banjir. Dia berazam untuk membantu pihak berwajib mengurus bumi ini dengan lebih terpimpin.

“Dapat bahan baharu tak?” Syima, rakan sekuliahnya menyorot catatan cakar ayam Qaira pada kertas nota. Qaira membalas dengan emoji sedikit kecewa. Beberapa kali dia cuba capaian laman web tapi talian internet gajetnya agak lemah. Dia susup hakikat hendak mengakui rumahnya tiada wifi seperti kebiasaan rumah masa kini.

Dia hanya mengisi tambah nilai telefonnya dengan kadar yang minima saban minggu. Selainnya Qaira mendambakan kemudahan wifi di universiti sahaja untuk mendapatkan kemudahan jalur lebar. Syima perhati sahaja gelagat Qaira sedari tadi.

“Belum, talian ‘siput’,” dia mencipta helah bela diri. Segera pula Syima mengeluarkan gajetnya dan menaip sesuatu pada skrin telefon canggihnya. Qaira sekadar menjeling dengan ekor matanya. Jauh di ujana hati, berdetik untuk memiliki telefon pintar secanggih itu.

“Ha, ni dapat!” Syima menunjukkan paparan mengenai beberapa fakta yang dikehendaki. Qaira cepat-cepat ambil buku nota dan sedia untuk mencatat, “ Kau baca, aku catat,” katanya pantas. Segera pula rakan baiknya itu membelek muka surat demi muka surat paparan di telefonnya.

“Tak payah, tangkap layar skrin je,” tingkah Syima.

“Tak apa, tak apa. Kaubaca. Kata tok guru aku, kalau kita baca lagi lekat ilmu tu,” bantah berhemah Qaira bernada gurau. Tersentap juga Syima sekejap. Tapi dia lontar senyum juga sambil kembali menatap peranti.

“Pada tahun 1971, negara kita dilanda banjir perdana yang sangat dahsyat. Lebih 50 peratus kawasan di negeri Pahang ditakluki air. Antara tempat yang terburuk menerima kesan ialah kawasan Pekan,” Syima seperti murid sekolah rendah mematuhi arahan Qaira untuk membacakan nota satu persatu. Pantas Qaira melakukan imlak.

Mereka berkenalan dan berkawan sejak menjejakkan kaki ke IPT ini. Walaupun mereka sedaerah namun baharu kini diketemukan. Syima seorang yang periang, sedikit lucu dan nakal, tetapi baik hati dan pemurah.

Mulutnya yang agak becok itu memang sesuai jadi tukang baca. Sesekali melatah juga dia apabila digiat oleh Qaira. Mulalah dia buat lelucon macam-macam. Seharian dia di rumah Qaira menyiapkan kertas kajian, ada-ada sahaja lawak yang dibuatnya. Normal dan norma baharu kehidupan global memaksa golongan pelajar menggunakan metodologi dan pedagogi terkini juga untuk mengikuti kuliah.

“Wah, dahsyat juga kejadian banjir masa tu!” Syima melepas lelah sambil mendepangkan tangannya, usai membaca data. Sementara Qaira pula sibuk mengemaskini nota yang dicatatnya tadi.

Qaira ke[uar ke dapur dan kembali ke meja perbincangan dengan membawa sepinggan pisang goreng yang bapanya bawa balik. Macam orang mengantuk disorong bantal, Syima terus pula menyambutnya. Teh O yang Qaira hidangkan dari tadi sudah ditambah dua kali.

“Kau tak makan, ke?” pelawa Syima kepada rakannya itu dengan mulut penuh. Nak tergelak pula Qaira melihat gelagat Syima yang semacam kelaparan itu. Mungkin juga, sebab dari tadi tidak berisi. Kalau melihatkan tubuh badannya tidaklah ‘bulat gete’
macam spesies orang kuat makan.

“Makanlah, aku dah jemu.. ha ha..” terkeluar juga artikulasi daripada halkum Qaira.

Kejadian banjir memang sinonim dengan kawasan itu. Mengikut perangkaan Jabatan Meteorologi, hampir setiap tahun banjir akan melanda Pantai Timur Malaysia. Ghalibnya pada bulan November dan Disember, kadang pula lajak ke bulan Januari. Tahun baharu pun dia tak sempat meraikan kerana memikirkan hal banjir.

Pada tahun 1971 dahulu, anggraan kerugian sebanyak RM84.7 juta melibatkan harta benda termasuk bangunan, barang keperluan dan sebagainya. Senario tersebut jugalah yang menjadi pemangkin kerajaan menubuhkan Suruhanjaya Tetap Kawalan Banjir Negara atau sekarang dikenali sebagai NADMA.

Apa tah lagi, komuniti petempatan Qaira memang sudah lali dengan tragedi banjir besar ini. Saban tahun mereka akan berpindah ke Pusat Pemindahan Sementara (PPS) yang disediakan kerajaan. Mereka sudah tidak kekok lagi dengan keadaan itu.

Itulah juga azam yang tersemat di nubari untuk mengubah nasib keluarga dan membebaskan penduduk setempat daripada ancaman banjir. Qaira mahu membuat kajian dan membantu kerajaan mancari solusi penyelesaian yang lebih efektif.

“Aik, dah habis? Maaf ya tak tinggal kat kau!” tetiba Syima seakan menjerit sendiri. Tidak sedar dia telah lantam semua pisang goreng cheese dalam pinggan tadi. Dia buat emoji lucu sambil meletakkan tangan di dagu, tanda mohon apologia.

“Eh, tak apa, tak apa. Aku tak kisah. Banyak lagi kat dapur tu. Bila-bila je aku boleh goreng semula,” Qaira bersahaja. Selang sehari Lijah Gedik atau anaknya, Ipul akan hantar bekalan ke rumah mereka. Kalau bukan pisang nangka, pisang abu, kelat
siam atau pisang nipah yang mereka hantar.

Jadi simpanan pisang memang sentiasa mengisi stor dapur rumah mereka. Ayahnya akan pilih yang betul-betul matang sahaja untuk dibawa ke gerai mereka di depan rumah. Itulah, yang menjadi talian hayat mereka sekeluarga.

Syima mencebikkan bibir buat lawak. Tidak tahu apa erti di sebalik senyuman sumbing itu. Matanya masih mengerling pinggan kosong di atas meja. Di dalam hatinya berbisik juga, bila agaknya Qaira hendak tambah pisang goreng lagi.

Sekali lagi kelihatan Qaira bermasalah dengan telefon bimbitnya. Dia cuba beberapa kali menekan-nekan skrin sentuh pada paparan gajet tersebut. Terletus juga keluhan-keluhan kecil daripada rekahan bibirnya. Namun dia tahu itu sahaja bahan
bantu yang ada untuknya buat masa ini.

Gajet itu tidak ada aksesori canggih seperti milik orang lain. Cukup hanya boleh digunakan mendapatkan maklumat penting sahaja. Hendak guna untuk muat turun video atau permainan seperti kebiasaannya, memang kapasitinya tidak mencukupi.

Siapapun tidak pernah menduga, era ini mencetus kelainan total dalam sistem pendidikan malah kehidupan seluruhnya. Keluarganya terkial-kial menyambung atma lantaran kehilangan pekerjaan sang ayah lewat kemalangan tragis dua tahun lalu.

Kini segalanya mahukan gajet, telefon canggih dan sarana berteknologi tinggi. Internet tanpa wayar, wifi, dan siber tanpa sempadan menjadi keperluan yang amat mendesak. Sebagai pelajar IPT, Qaira amat terkesan dengan situasi itu. Bertepatan
dengan tahun baharu ini, kuliahnya juga akan bermula tidak lama lagi.

“Eh, apa tu?” Syima memandang ke luar jendela, buat-buat terkejut. Qaira paling muka. Sepantas kilat pula Syima letak sebuah bungkusan di sisi riba Qaira sambil buat-buat tidak tahu.

“Eh, kotak apa ni?” Qaira kejut apabila jemarinya tersentuh. Syima angkat bahu, buat bimbo.

“Mana aku tahu, bom kot, cubalah buka,” Syima menakut-nakutkan. Selamba Qaira letakkan kotak itu atas meja, tidak mahu dia melayan karenah rakannya yang memang telah sedia maklum nakalnya itu.

“ Em, orang cakap tak nak dengar pula. Nanti kalau ada bom betul, aku tak tahu. Sekarang ni banyak kes pelik berlaku.” Syima terus menyakat.

“Entah-entah ada katak dalam kotak tu, tak tahu…” sambungnya lagi sambil menutup muka dengan tuala. Dia faham itu strategi untuk mengganggu konsentrasi rakannya. Katak dan Qaira bertemu tiada.

“Ha, Katak? Mana, mana?” Terdengar sahaja perkataan katak, Qaira spontan menjerit sambil cuba beralih kedudukan.

Musim hujau begini memang banyak katak mencari perlindungan. Matanya buntang melilau kiri-kanan seraya tampak aura kegelian. Dia tahu sangat sifat Syima yang selalu mengenakannya.

“Kau jangan Syimal!” jeritnya ketakutan. Kotak tanpa balutan itu dikuisnya, tiada gerakan. Hatinya tenang seketika, ini tentu mainan Syima. Dia kuak bahagian atas kotak yang sememang tidak berselotap.

Mata Qaira jeling-jeling melihat ke arah kotak itu. Syima pula buat-buat hendak buang air membiarkan Qaira mengomel sendiri-sendiri.

“Katak dalam kotak!” jerit Syima sambil menjauh. Seakan lelucon dia melihat riak rakan yang kian cemberut. Perlahan-lahan Qaira membelek kotak yang tiada tindakbalas itu. Kalau ada benda hidup tentu dan bergerak, bisiknya agak pasti.

Nipu sungguhlah mek ni!” Qaira memberanikan diri membuka kotak itu. Mustahil ada katak dalam kotak yang dibalut rapi itu. Sampai ke lapisan akhir, matanya terpaku.

‘Hai….Selamat Hari Lahir, Qaira! Terimalah hadiah yang tak seberapanya ini. Daripadaku…kacang hantu Syima.’

Tersirap darah ke rona muka Qaira apabila membaca kad kecil di dalamnya. Tidak dia sedari hari itu ialah tarikh hari lahirnya. Dia lihat sebuah telefon pintar jenama terkenal seperti yang pernah diidamkannya di dalam kotak keemasan itu. Dia alih pandangan ke sosok tubuh Syima yang tidak jadi ke bilik air. Air matanya hampir tumpah .

“Syima…!” Qaira meluru ke arah rakan akrabnya itu. Pelukan rapat menyatukan solidariti antara keduanya.

Kali ini air mata Qaira tidak tertahankan. Dia peluk Syima lagi, tidak mahu dilepaskan. Tidak sangka Syima buat ‘gemparan’ pada awal tahun baharu yang dia pun terlupa. Lebih tidak diduga lagi, apabila kini dia menggenggam gajet idaman yang telah lama diimpikan. Hadiah hari jadinya. Dia cumbui sahabatnya itu bertubi-tubi.

Sudah pasti carian bahan, hantaran serta ciapan balasnya dalam medsos akan berlari lebih pantas. Dan dia pasti tidak akan bergelut lagi dengan ‘line slow’ pada tahun baharu ini.

“Qaira, ada katak dalam kotak tu!” jerit Syima tatkala melihat seekor katak pisang tiba-tiba melompat masuk ke dalam kotak yang telah kosong itu.

“Maak!”

8.

KASIH SARAH TIADA NOKTAH SETIAP TAHUN BAHARU
Oleh: Salmah Amir

Pada awal bulan Ogos tahun 2016, Allahyarhamah Sarah sudah mula sakit di bahagian tulang belakangnya. Ketika itu awal bulan Ramadhan dan Sarah sedang bercuti bersama ibunya di Bandar Putra Kulai, Johor. Kebiasaannya Allahyarhmah tidak pernah mengadu sakit kerana dia seorang anak yang tabah. Kali ini, Sarah mengadu kepada ibunya yang dia rasa tersangat sakit di bahagian belikat tulang belakangnya sejak kebelakangan ini. Ibunya sebagai seorang pengajar jururawat menasihatkan Sarah agar beli katil besar dan tilam yang lebih baik untuk rumah sewanya. Maka, saranan ini Sarah telah ikut dan masih menangis teresak semasa menalipon ibunya. Sarah anak tunggal kepada ibu dan ayahnya setelah sepuluh tahun berkahwin barulah Allah anugerahkan kedua ibubapa Sarah seorang anak comel, periang, tidak pernah menangis walaupun demam tinggi semasa Sarah kecil. Setelah mendapat ijazah, Sarah bekerja sebagai pegawai eksekutif di Bank Hong Kong Shanghai Cyberjaya.

Pada tahun Sarah sakit ia sudah empat tahun bekerja. Setiap bulan walaupun ibubapanya cukup duit pencen, Sarah tetap beri sepuluh peratus dari wang gajinya setiap bulan. Ayahnya simpankan wangnya dan jadikan saham Amanah Nasional. Ibubapanya masih tambahkan lagi duit mereka kedalam tabung Amanah Saham Nasional anak mereka ketika sejak Sarah lahir lagi. Ibu bapanya mengharapkan supaya Sarah akan ada banyak wang dan boleh hidup senang sekiranya ibubapanya telah mati kelak. Itulah perancangan kedua ibubapa Sarah untuk anak tunggal mereka. Ibubapanya menjaga Sarah seperti menatang minyak yang penuh.
Segala kebajikannya diselenggarakan dengan baik supaya hidup tidak banyak berhadapan dengan masalah.

Sarah akan balik ke rumah ibubapanya setiap minggu dengan menaiki pesawat dan ibubapa Sarah akan bayar semua duit tiket setelah ditempah melalui talian oleh Sarah. Ketika itu harga tiket pergi balik dari Kuala Lumpur ke Johor Bahru masih murah, Jika naik koc esekutif harga tiket pergi balik seratus dua puluh ringgit. Jikalau naik pesawat tempah awal tiket akan dapat harga murah dalam seratus tiga puluh ringgit sahaja. Tidak banyak bezanya dan lagi pun lapangan terbang Senai hanya di belakang taman perumahan ibubapa Sarah. Memandu ke lapangan terbang hanya sepuluh minit. Maka itu lebih mudah Sarah menaiki pesawat dari
memandu kereta sendiri atau naik koc esekutif.

Sarah seorang anak bertuah sejak lahir sehingga dia meninggal dunia dan sekarang. Kasih Sarah kepada ibubapanya dan mereka yang memerlukan tiada noktah sehingga kini. Walaupun dia sudah enam tahun pulang ke negeri asal. Banyak lagi yang ibu bapanya rancangkan dengan harapan Sarah akan senang hidup. Harapan ibubapanya agar lelaki yang bakal menjadi suaminya tiadak akan susah. Jika suami berhajat pula untuk susahkan Sarah, Sarah tidak akan susah kerana Sarah sudah pun ada sebuah Residen dan kereta sendiri serta wang simpanan Amanah Saham Nasional,insuran dan Kumpulan Wang Simpanan pekerja. Maka Ibubapanya kira Sarah anak mereka akan hidup senang.

Namun takdir telah menyelubungi semua perancangan ibubapanya. Pada awal Ogos tahun 2015 Sarah telah di diagnoskan mengidap kanser tiba tiba tanpa tahu punca asalnya. Doktor telah melafazkan kanser dihadapan Sarah melalui gambarajah “Magnetic Resonance Imaging” (MRI) bahawa ketumbuhan sebesar penumbuk berada di antara tulang belakang dan organ jantungnya membonjol menekan tulang belakangnya. Itulah penyebab sakit tulang belakang semasa mengadu sakit. Lebih anih apabila kelihatan akar akar ketumbuhan telah melilit di setiap organ pentingnya seperti salur darah agung aorta, hati, jantung, pundi hempedu, limpa dan gaster Sarah. Doktor telah memberitahu bahawa ini adalah peringkat paliatif atau akhir kehidupan.

Doktor pakar hospital Selayang yang menjaga kes Sarah telah menyuruh ibubapanya membawa Sarah pulang setelah tiga puluh hari mencari punca pencetus kanser tidak diperolehi untuk ditembak perubatan kemo pada organ punca. Doktor telah berpesan kepada kedua ibubapanya agar turut semua kehendak Sarah dan bawalah Sarah kemana sahaja dia ingin pergi. Sarah ingin menjijakkan kakinya di tanah suci Mekah. Ibubapanya telah membuat tempahan tiket pada tarikh hari pertama pintu Mekah boleh menerima masuk untuk ibadah umrah selepas musim haji selesai. Tiket dan penginapan semua telah di bayar untuk Sarah dan kedua ibubapanya. Ibu Sarah juga telah mohon untuk melalui proses kemo am kerana organ punca tidak dapat di ketahui. Doktor pakar peringkat awalnya engan melakukannya kerana ini akan merosakkan sel yang sihat jika terkena kemo tembakkan am tersebut. Oleh kerana satu permintaan seorang ibu Sarah yang tidak mahu putus asa serta ingin mencuba memandangkan Sarah masih muda. Maka ibunya fikir bahawa Sarah kuat dan mampu terima prosedur kemo tersebut.

Allah maha penentu segala. Allah tahu apa yang lebih sempurna untuk hambanya. Walaupun ibubapa Sarah tidak tidur malam menjaga Sarah di hospitalSelayang. Mereka tidur sebilik dengan Sarah hanya bertilamkan blanket pesakit beberapa helai yang diberikan oleh ketua Jururawat di wad tersebut. Penghawa dingin Bilik 1 tingkat Sembilan hospital Selayang tersangat sejuk simen dan suhu biliknya. Ibubapa Sarah masih sanggup tidur di dalam bilik dan Sarah tidak mahu ibu bapanya keluar dari biliknya langsung kerana segala keperluan ada di dalam biliknya. Makan dihantar dengan menu yang ditempah dan bilik mandi ada didalam biliknya. Ibubapanya kesejukan tapi selesa dan berpuas hati berada bersama Sarah sepanjang hari. Alhamdulillah syukur semua jururawat, ketua jururawat dan penyelia jururawat sangat baik melayan mereka bertiga beranak. Sarah tidak keseorangan
sepanjang sakit di hospital sehingga sepuluh hari di rumah. Ibubapa Sarah tetap tidur sebilik di bilik Sarah sehingga mandi pun Sarah hendak kami mandi di bilik mandinya.

Semasa di rumah dan di dalam biliknya, Sarah telah menghembuskan nafas terakhir dengan mudah. Pada sepuluh haribulan bulan sepuluh tahun 2015 dengan satu hembusan nafas sahaja Sarah sudah tidak bernyawa lagi. Sebelum ia dijemput pulang, Sarah ada berpesan agar semua duitnya di sedekahkan kepada masjid, orang kurang upaya dan orang tua yang memerlukan. Sarah menerima pencen ilat dari pihak kumpulan PERKESO dan insurans bank Hong Kong Shanghai dua kali ganda dari kes kematian biasa. Selain dari itu Sarah tinggalkan sebuah rumah, kereta dan wang Amanah Saham, Tabung Haji dan Kumpulan Wang Simpanan
Pekerja yang telah terkumpul. Kesemua asset Sarah telah dipulangkan semula kepada kedua ibubapanya kerana Sarah hanya ada ibubapnya sahaja. Apa yang buat ibubapanya rasa kesal dan amat kecewa adalah kerana apa yang mereka rancang dan buat untuknya telah berpatah balik kepada ibubapanya semula. Sekarang wang itu semua ibubapanya uruskan membahagikan seperti kehendak dan permintaan Allahyarhamah Sarah. Sehingga kini, kasih Sarah tiada noktah kerana wangnya masih berterusan berjalan di tempat dan mereka yang memerlukan. Setiap tahun baharu, kiraan semua zakat dan wang Allahyarhamah di agihkan kepada yang memerlukan. Ibubapanya tidak menyembelih angsa emas Sarah perolehi tetapi mengagihkan telur emas yang dihasilkan oleh angsa emas kepunyaan Sarah setiap awal tahun baharu. Maka pada setiap tahun baharu ibubapa Sarah akan berlinang air mata kerana kasih anak mereka tiada noktah sehingga kini kepada kedua ibubapa dan mereka yang memerlukan dan juga kebajikan di masjid. Ibubapanya bersyukur walaupun dalam keadaan amat sedih kerana satu satu permata belahan jiwa mereka telah pergi terlebih dahulu dari mereka. Namun kasih Sarah tiada noktah setiap awal tahun baru.

TAMAT.

9.

ANGIN TAHUN BARU
Karya: Abdul Jalal HM

Hujan rintik-rintik warna langit memerah dan aku menyaksikan air danau di samping rumah menggelombang dan tetapi bukan sebuah kebahagian yang aku saksikan melainkan kesedihan. Seorang anak kecil sedang memegang range (jaring penangkap ikan). Apakah ada yang salah dari peristiwa ini? Tidak ada, hanya saja seperti kebanyakan orang pada umumnya jika hidup di Tangerang, biasanya anak-anak yang sudah lulus SMA sudah mulai bekerja dan mendapat upah harian, mingguan atau bulanan. Mengapa ia hanya menyendiri dan memegang range (jarring perangkap ikan) setiap hari? Apakah ia pemalas? Tentu tidak, kenyataannya ia masih berusaha untuk memenuhi sedikit kebutuhannya.

Problematika yang sama di kota-kota industri adalah faktor kurangnya lapangan pekerjaan dan kurangnya kepekaan masyarakat akan sekitar orang-orang terdekatnya. Belum lagi, jumlah para pendatang yang semakin meningkat menjadi masalah yang kompleks sekali. Anak-anak muda yang telah lulus SMA/SMK sederajat biasanya bekerja di pabrik, bandara, jaga kios atau bahkan jadi tukang parker mall-mall sekitar dan banyak lagi pekerjaan-pekerjaan lainnya yang bias dilakukan.

Tetapi apa yang menjadi kasus anak tadi? Yang bahkan HP saja tidak punya. Jika memang terlahir dari seorang anak petani garapan (tanah ngontrak/bagi hasil) seharusnya kemungkinan kecil nasibnya lebih baik dari pada seorang Ayahnya.

Kadang pahit manisnya hidup memang tidak pernah ada yang tahu, semua yang sedang dialami mungkin sedang pahit saja. Mungkin juga ada manisnya. Tetapi, kejadian ini sering sekali terlihat di kota-kota perbatasan Tangerang.

Kemudian saya bertanya kepadanya. Mengapa setiap hari saya melihatmu sedang mencari ikan dan sedikit tangkapannya? Kemudian ia menjawab: “Saya pernah bekerja di limbah tetapi tidak lama, kemudian begini lagi. Yah sekedar buat makan aja. Ikannya juga sudah jarang dan banyak juga yang nyari ikan di danau ini.” Kemudian saya membuka makanan ringan dan menikmati bersamanya. Sedikit terharu melihatnya demikian.

Sambil menikmati arah angin dan pergantian tahun yang sejuk ditambah gemercik hujan, hidup kadangkala berubah jadi sendu. Sedikit murung wajah langit, bias cahaya yang nampak elok dan rerumputan yang indah.

Tak ada ikan yang didapat sabtu sore akhir tahun itu satupun. Kemudian saya melanjutkan pertanyaan saya kepada anak muda itu. Mengapa ia tak berdagang? Jawabnya tentu sudah saya pikirkan ia tidak memiliki modal untuk membeli peralatan dagang. Apakah pikiran saya akan sama dengan jawaban anak muda itu? Saya rasa tentu sama.

Namanya Leo, ia kemudian menjawab: “Yah, saya tidak punya modal. Jika punya saya sudah berdagang.” Kemudian saya bertanya kembali kepadanya: “Jika ada yang memodali apakah kamu mau berdagang?”

Leo: “Tentu saya mau, bisa sedikit-sedikit mah.” Ternyata ia mampu menjawab seperti yang saya duga. Anginya semakin berhembus pertanda hujan semakin kencang. Seorang Bapak-bapak berkhas Tionghua menghampiri dan mengangkat keranjang udang yang ia tenggelamkan diberi umpan terasi kemudian mendapatkan udang, berhasil ucapnya.

Sorot mata kami menuju udang hasil tangkapannya. Kemudian sore semakin menguning dan orang-orang berlarian sebab hujan semakin deras dan saya kembali ke rumah. Kemudian setelah menyelesaikan solat maghrib, iseng melihat jalan raya ada banyak penjual makanan tiba-tiba ramai.

Mulai dari tukang ayam bakar, ikan bakar, jagung bakar, roti bakar, es, dan berbagai jajanan lainnya. Saya menyaksikan perayaan di depan rumah dan merasa tahun-tahun mengembalikan ingatan tentang masa lalu sekaligus masa depan.

Waktu semakin membawa pada ketenangan dan saya sedikit mengobrol dengan para pedagang di depan rumah. Mengenai penjualan mendekati tahun baru ini, ternyata ada yang lumayan dan ada juga yang biasa saja.

Yah, hujan rintik-rintik terus mengalir membasahi tanah beraroma masa lalu, antara keseruan dan keindahan. Kehidupan barangkali tak ubahnya tetumbuhan di sekitar yang hilang dan berganti.

Saya kemudian menyampaikan maksud saya dalam tulisan ini, ketika membuka handphone dan melihat ada SYAEMBARA MENULIS kemudian saya mengambil laptop lama yang sudah tidak saya gunakan selama 2 tahun terakhir dan menulis angina tahun baru yang menakjubkan sekali.

Melihat hadiah nominal yang lumayan mungkin bisa saya pakai untuk melanjutkan hidup sebab memang sedang tidak ada pekerjaan bulan-bulan ini. Akhirnya untuk pertama kalinya saya menulis cerita kembali, tetapi rasanya lelah sekali menulis 1.000 kata. Padahal baru sampai 600 kata.

Kemudian saya mengingat-ngingat kembali kisah cinta yang gagal di tahun ini, menyedihkan sekali. Seharusnya, saya sedang berada di rumah kekasih. Tetapi, tersebab ada problem yang belum selesai. Saya terpaksa menyendiri kembali dan acapkali menulis puisi meski sudah lama lupa kapan terakhir kalinya merasakan jatuh cinta.

Setelah ini, mungkin saya akan tertidur dan melanjutkan hidup seperti biasanya bangun pagi, mengunjungi kerabat dan mencintai diri saya sendiri, kadangkala ke sawah, ke lading, melihat peternakan dan merasa nyaman dengan perjalanan hidup.

Menanyakan kabar komunitas menulis Tangerang ke Riko Mahareza sebagai pengganti saya periode 2020-2021 kemarin, yang terkendala pandemic dan kerap mengirim puisi ke Prof. Wan Abu Bakar (Malaysia) kemudian sambil mencari-cari uang untuk tetap menjalani kehidupan ini dan memenuhi yang sekedar kebutuhan hidup.

Bagi saya, tulisan akan selalu menarik untuk dibaca dan karya akan selalu laku dipasaran sebab pembaca akan selalu hilang dan berganti, begitu juga dengan penulis. Tetapi saya mengakrabi dunia kepenulisan sejak di bangku Sekolah Dasar, sejak saya masih begitu dini. Sekitar usia 8 tahun menulis CERPEN. Untuk hal-hal menyenangkan dan menyedihkan dari hidup sendiri dan hidup orang lain yang disampakaian melalui tulisan akan selalu menjadi kenangan terindah yang melampaui hari lalu.

Menyeduh kopi sambil menulis cerita hari ini dan menyaksikan orang-orang berbahagia adalah sebuah kebahagiaan tersediri. Saya merasa hidup akan jauh lebih indah ketika kita begitu peka merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan.

Orang-orang yang saling berbagi merasaka kenikmatan sendiri, seperti hujan yang membasahi memberikan kehidupan bagi sesame makluk, kecuali bencana bagi Jakarta yang kerap kebanjiran dan selalu waspada. Sebab antara volume air dan pembuangan air terlalu kecil.

Keadaan ini kerap menjadi kutuk dan berkah bagi Jakarta dan Tangerang kedua kota yang saling berbatasan. Kehidupan yang membatasi antara kesenangan dan kesedihan, begitu juga dengan yang kerap kali kita rasakan antara tidak dapat hadiah dan mendapat hadiah.

Kejutan akan selalu hadir, menyikapi setiap yang terjadi sebagai peristiwa atau tragedi, malam tahun baru ini semoga ada angan-angan bagi setiap manusia untuk kemudian dicapai dan dirasakan sendiri atau bersama.

Saya akan selalu mendoakan yang terbaik bagi diri saya, orang lain dan sesame manusia, tidak perlu membenci apapun yang menyakiti baik dari orang lain atau penyesalan diri sendiri atau nasib buruk yang belum beranjak berganti, selama hidup masih berjalan saya yakin hadiah itu untuk penulis.

ABDUL JALAL HM
Tangerang, 31 Desember 2022.

KEPUTUSAN

Keputusan Sayembara Certot Tahun Baru GAKSA

Syarat

1.Terbuka asalkan tahun baharu

2. Sekitar 1000 perkataan

Ulasan Hakim

Bismillah … berikut adalah ulasan ringkas setiap cerpen;

1. Tahun Baru Tuan Ghuf – Moh Ghufron Cholid

Mengisahkan tentang kehilangan anak pada tahun baharu. Segala kenangan silih berganti sejak mula berkahwin. Pada mula aku seolah-olah tidak dapat menerima kehilangan anak itu. Namun akhirnya pasrah dan memulakan hidup baru pada tahun baharu.

Cerita ini lebih kepada luahan perasaan atau untuk menceritakan Kembali segala kenangannya. Konflik yang diharapkan iaitu tentang kesedihan tidak cukup menyentuh perasaan. Penggunaan puisi seolah-olah terpisah daripada jalinan cerita hanya ulangan kepada segala yang telah berlaku. Markah 51/100

2. Anwar Ibrahim: PMX Malaysia – Kablam22

Catatan aku tentang PMX atau Perdana Menteri Malaysia yang ke-10.  Aku mengharapkan ada ruang dan peluang kepada PMX agar dapat memajukan negara. Segala tohmahan lalu perlu dilupakan. Rakyat terutama aku perlu ada wawasan untuk memajukan diri pada setiap tahun baharu.

Konflik sangat penting dalam sesebuah cerita. Jadi perkara itu perlu difikirkan oleh penulis untuk masukkan dalam sesebuah certot, dan bukan sekadar memberi pendapat dan harapan beliau tentang PMX yang baharu. Markah 50/100

3. Dilema Isteri Peneroka -Paridah Ishak

Safura seorang janda yang melihat rakannya gembira apabila berkahwin dengan seorang duda peneroka Felda. Kedatangannya ke rumah makcik pada tahun baharu hanya berakhir dengan angan-angan. Ibu saudaranya menasihatinya agar tidak meneruskan hajat untuk berkahwin dengan duda peneroka kerana akan timbul masalah belakangan nanti.

Cerpen adalah sebuah cerita yang membiarkan pembaca mendapat manfaat melalui karangannya. Segala yang hendak disampaikan terutama tentang tahun baharu dan juga mencari suami baru disampaikan dengan berkesan dan menarik. Untuk lebih menyengat kisah ini perlu tampilkan saspens atau twist plot. Markah 78/100

4. Jodoh – Hamimah Ibrahim

Seri telah kematian suari, begitu juga dengan Rasyid yang telah kematian isteri. Mereka bertemu dan jatuh cinta semula. Namun hajat Seri itu dihalang oleh anak-anak kecuali anak bongsunya. Di sebelah pihak Rasyid pula semuanya berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan daripada anak-anak. Seri mengharapkan tahun baharu memberi sinar kepadanya agar bertemu dengan jodoh itu.

Kisah pertemuan semula dengan kekasih lama sudah sering didendangkan oleh penulis. Tambahan pula setelah kematian pasangan masing-masing kemudian mahu bersama tetapi ada halangan daripada anak-anak. Agak klise. Namun aspek klise ini sepatutnya boleh ‘dicantikkan’ dengan teknik plot atau unsur saspens dan ‘twist plot’. Tetapi dalam kisah itu perkara tersebut tidak dilakukan oleh penulis. Markah 62/100

5. Janji Patin Tempoyak – CT Nurza

Sitie menetapkan azam untuk menunaikan janji kepada kawannya iaitu mengirim ikan patin dar sungai Pahang. Daripada perbualan itu, Sitie berasa bangga dengan kejayaan kawannya dalam bidang penulisan. Jadi pada tahun baharu Sitie juga mahu tekun berkarya menghasilkan karya yang berimpak tinggi.

Kisah ini perlukan teknik cerita yang lebih mantap. Hal ini kerana tiada klimaks dan saspens untuk dipersembahkan kepada pembaca. Lebih kepada hanya sebuah catatan untuk diingatkan oleh diri sendiri. Sedangkan gaya bahasa yang digunakan sangat baik. Markah 53/100

6. Sanah Helwah Adikku Sayang – Noorlaila Ghafar

Mengisahkan hubungan adik-beradik yang sangat erat sejak daripada kecil hingga dewasa. Walaupun hidup berjauhan dan sudah mempunyai keluarga masing-masing hubungan yang erat berkat didikan dan asuhan ibu bapa menjadikan hubungan mereka terus kukuh.

Kisah kekeluargaan yang menarik. Walaupun sudah biasa atau klise dengan cerita-cerita sebegini namun, teknik penceritaan yang digarap (imbas kembali dan suspens) menjadikan kisah ini berbekas di sanubari. Cuma penulis perlu peka tentang fakta (penggunaan vacum pada tahun 1971 di masjid?) begitu juga dengan beberapa ejaan perkataan dalam bahasa Arab. Markah 80/100

7. Dalam Kotak Ada Katak – Nuri Mas Nuri

Nilai persahabatan yang kukuh sangat bermakna apabila saling bantu-membantu. Kisah dua orang sahabat baik yang belajar di universiti. Syima menghadiahkan Qaira telefon bimbit untuk memudahkan sahabatnya itu belajar. Hari jadi Qaira yang jatuh pada tahun baharu itu sangat bermakna dengan hadiah itu. Telefon bimbit itu sudah lama diidaminya.

Teknik penceritaan yang lancar. Juga memberi kesan kepada pembacaan terutama dari aspek persahabatan yang akrab. Namun bagi sebuah certot kisah ini agak bertele. Isu atau topik yang hendak disampaikan oleh pencerita iaitu tentang banjir seolah-olah diabaikan dan tiada kesudahan. Markah 75/100.

8. Kisah Sarah Tiada Noktah setiap Tahun Baharu – Salmah Amir

Mengisahkan tenang seorang anak (Sarah) yang meninggal kerana kanser. Sarah anak yang baik meninggalkan segala harta kepada ibu bapa. Didikan yang baik daripada ibu bapa terhadap anak-anak akan kembali kepada ibu bapa hasilnya.

Sebuah kisah (kenangan) yang mendatar iaitu hanya bercerita tentang didikan ibu bapa kepada anak yang hasilnya anak tersebut membalas semua jasa tersebut. Tiada aspek atau teknik yang menarik, walaupun kisahnya boleh memberi pengajaran kepada pembaca. Terdapat kesalahan ejaan yang perlu diperbaiki (mengganggu kelancaran pembacaan). Markah 66/100

9. Angin Tahun Baharu – Abdul Jalal HM

Kisah aku dan seorang anak muda (Leo) yang berbual tentang kehidupan. Kebayakan kehidupan anak muda di Tangerang agak sukar kerana terpaksa bersaing untuk mendapat pekerjaan yang sedikit. Kemudian fokus cerita mula bercampur-campur iaitu berubah tentang penulisan, sayembara, peniaga dan lain-lain hingga hilang isu utama yang hendak disampaikan.

Penulis lebih kepada melaporkan kejadian dan bukan bercerita (cerpen). Walaupun kisah ini menarik, namun aspek sastera dari segi plot (longgar) mengganggu pembacaan.  Markah 60/100

Kesimpulan

Dalam aspek penulisan terutama cerita (dalam hal ini certot) perkara penting seperti aspek sastera tidak boleh diabaikan. Plot cerita seperti permulaan, perkembangan, klimaks, konflik dan peleraian perlu kemas dan kuat. Untuk certot iaitu cerita pendek fokus atau subjek cerita perlu ringkas atau satu perkara sahaja. Jika terlalu banyak perkara hendak dikisahkan maka, fokus atau tumpuan cerita itu akan terjejas (mengganggu pembacaan). Begitu juga dengan gaya bahasa. Selalunya cerita yang menarik akan hadir bersama bahasa yang indah (tiada kesalahan, mudah difahami, kosa kata luas dan sebagainya). Dalam hal ini kesemua certot adalah baik (memenuhi syarat yang ditetapkan iaitu tahun baharu) namun, yang menang adalah lebih baik dan menarik pada pandangan mata penilai. Moga bermanfaat.

Pemenang

1. Sanah Helwah Adikku Sayang – Noorlaila Ghafar (RM300).

2. Dilema Isteri Peneroka -Paridah Ishak (RM200).

3. Dalam Kotak Ada Katak – Nuri Mas Nuri (RM100).

Disediakan:

5.01.2023.

Tahniah kepada para pemenang. Untuk yang tidak berjaya, cuba lagi dalam sayembara-sayembara ESVA yang akan datang.

Hakim:

TAMAT.