Aku kehilangan
sebelah kaki
yang suka mendaki sendiri
ke sana sini.

Aku kehilangan
sebelah kaki
yang suka berlari sendiri
ke sana sini.

Aku bebaskan kaki
untuk mendaki dan berlari
ke sana sini.

Aku kehilangan
itu kaki
kerana dia kini
lupakan diri.

Oleh:

IRWAN ABU BAKAR.
Kuala Lumpur, 4 Julai 2022.

ULASAN

IRWAN ABU BAKAR DAN PUISI YANG MENGGUGAT KETIDAKPATUTAN

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Malam ini tepatnya, 12 Juli 2022 saya bertemu dengan sebuah puisi berjudul KAKI yang ditulis oleh penyair negeri seberang berkebangsaan Malaysia, Irwan Abu Bakar namanya, Presiden Esastera jabatannya berkarya dan terus berkarya adalah hobinya.

Puisi ini dihadirkan dalam empat bait, sepintas puisi ini tampak sangat sederhana namun ketika dibaca berulang-ulang tampaknya memiliki filosofi yang begitu dalam. Baiklah saya posting utuh puisinya agar bisa dinikmati secara utuh dan agar bisa melahirkan pandangan secara utuh pula, dari sudut pandang berlainan yang juga dari penulis lain pula.

KAKI

Aku kehilangan
sebelah kaki
yang suka mendaki sendiri
ke sana sini.

Aku kehilangan
sebelah kaki
yang suka berlari sendiri
ke sana sini.

Aku bebaskan kaki
untuk mendaki dan berlari
ke sana sini.

Aku kehilangan
itu kaki
kerana dia kini
lupakan diri.

IRWAN ABU BAKAR
Kuala Lumpur, 4 Julai 2022.

Bait pertama, Irwan Abu Bakar menggambarkan bagaimana kaki itu mendaki yang bisa diartikan membanggakan diri sendiri tanpa harus repot-repot meninggikan orang lain. Tak harus bersusah payah duduk sama rata atau berdiri sama tinggi dengan lainnya.

Sementara bait kedua dihadirkan bagaimana sosok atau situasi yang terlalu sibuk dengan dirinya, tak mau bergerak bersama atau bekerja sama dengan lain alias tidak mau bekerja dalam team. Sosok yang ingin terlihat lebih lincah atau lebih cepat dibandingkan yang lain sehingga dengannya hanya menemukan kesendirian.

Pada bait ketiga, tampaknya penyair ingin membebaskan segala yang ingin terlihat lebih unggul dari yang lain, agar tak menyisakan beban di hati. Barangkali penyair hendak menyentil cara seseorang dalam berproses hidup dengan gaya yang begitu angkuh atau tak peduli dengan kehidupan orang lain.

Bait keempat adalah puncak dari keberangan atau kemarahan penyair terhadap panorama hidup, yang tak lagi bisa menyejukkan pandangan. Panorama hidup yang sudah berada puncak kehancuran yakni melupakan batas-batas yang sudah disepakati khalayak umum. Ya, memang sangat miris potret hidup yang dihadirkan penyair namun ini benar-benar ada di kehidupan nyata maka puisi difungsikan sebagai gugatan atas ketakpatutan dalam menjalani hidup.

Junglorong, 12 Juli 2022

TAMAT.