Debat Anwar-Najib. Jom kita buat SAYEMBARA ESEI ringkas. Sekitar 500 perkataan.
Hadiah:
Ke:1: RM100.
Ke-2: RM70.
Ke-3: RM50.
Tarikh tutup: Jumaat 13.05.2023 11:59 PM.
E-melkan esei ke: GaksaAsean@gmail.com.

PENYERTAAN

  1. Moh. Ghufron Cholid. “Sapura Energency Di Mata Najib dan Anwar”.
  2. Hamizun Syah. “Reformasi vs. Transformasi”.
  3. Muhammad Barcov Firdaus. “Debat Dua Figur: Permainaan Data dan Retorika”.

KARYA

Karya 1

SAPURA ENERGENCY DI MATA NAJIB DAN ANWAR

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Sayembara Esva kali ini sangat menarik dalam pandangan saya karena tiap peserta diberikan materi untuk menyimak perdebatan dua orang istimewa Malaysia yakni Anwar dan Najib Razak. Perdebatan yang bisa disimak lewat youtube maupun facebook pelan-pelan dijadikan bahan tulisan lalu hasil tulisan dikirim kepada pihak penyelenggara untuk dinilai dan ditentukan pemenangnya.

Debat Anwar Vs Najib Razak (12 Mei 2022 jam 9 Malam yang disiarkan secara langsung)
layak untuk disaksikan dan disimak tak hanya oleh lapisan masyarakat Malaysia saja
melainkan layak untuk diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat dari berbagai negara lantaran
berkenaan bagaimana kedua putra bangsa yang saling beradu ide untuk memajukan
negaranya dan menyelesaikan masalah yang diderita negaranya.

Kita dapat memisalkan apa yang dilakukan oleh Anwar maupun Najib Razak dalam debat
yang dipandu oleh Puan Haslina sebagai wujud cinta pada negara tumpah darah. Wujud cinta
dari segi pemikiran tentunya dengan langkah-langkah yang dirasa sangat tepat untuk
ditempuh baik oleh Anwar maupun Najib.

Sapura Energency juga tak luput dari sorotan dan ikut dibahas dalam debat Anwar Vs
Najib Razak yang bisa anda saksikan secara utuh di channel youtube maupun facebook
di jaman yang serba canggih ini.

Di mata Najib Razak, Sapura Energency bermasalah karena kejatuhan harga minyak
selama 7 tahun, Najib pun tidak menyangkal kalau ada penyelewengan dalam Sapura
dan perlu diadakan tindakan perbetulan tetapi tidak lantas kita boleh membenarkan
kalau Sapura muflis karena yang akan terjadi negara akan mengalami kerugian. Yang
rugi adalah rakyat Malaysia namun Najib juga menawarkan solusi yang bisa ditempuh
untuk keluar dari permasalahan yang sedang melanda yakni Sapura perlu melakukan
gebrakan dalam 10 Juni ini jika tidak berhasil dalam 10 Juni maka Najib Razak
menyutujui bagi yang berpendapat Sapura muflis, sayangnya lantaran ketiadaan waktu
Najib Razak tak berkesempatan menguraikan solusi tersebut secara detail. Tetapi paling
tidak, apa yang dipaparkan Najib Razak bisa diamati dan ditelaah oleh masyarakat
Malaysia lantaran kepiawaian dalam berargument mesti diuji sesuai atau tidak dengan
harapan yang hendak dicapai. Untuk mengetahui berhasil tidaknya apa yang disampaikan
Najib Razak kita tunggu sampai 10 Juni mendatang. Waktu yang bisa dibilang sangat
singkat bila kita menelaah hasilnya untuk keluar dari masalah yang sangat pelik. Namun
juga bisa dikatakan lama bagi yang tak sabar untuk membuktikan ucapan orang istimewa
Malaysia satu ini yakni Najib Razak.

Di sisi lain Anwar ikut berbagi pandangan tentang penangan Sapura Energency yakni
dengan menawarkan farensik audit untuk keluar dari permasalahan Sapura. Anwar
dengan sangat detail memaparkan forensik audit mesti dijalankan yakni sebelum ikut
campur mengatasi Sapura Energency mesti dipelajari sumber masalahnya. Siapa yang
paling berperan dan berapa komisi yang bisa didapat mesti diusut tuntas.

Baik Najib maupun Anwar sebenarnya ingin memberikan yang terbaik untuk penangan
Sapura Energency dengan cara-cara yang diyakini kebenarannya hanya saja pemaparan
Anwar dalam hal ini menurut hemat saya lebih terukur dan sistematis sehingga kita tidak
masuk dalam ruang andai-andai.

Pemberian kekuasaan penuh bagi yang ingin menangasi Sapura Energency sampai keakar-
akar lewat forensik audit seperti yang ditawarkan oleh Anwar perlu kita coba agar
hasilnya bisa kita evaluasi.

Kedua putra bangsa Malaysia telah mengemukakan pandangan selanjutnya sebagai
warga Malaysia hanya tinggal menentukan pilihan, boleh memilih pandangan Anwar
saja, atau memilih pandangan Najib saja atau memadukan dua pandangan tersebut
untuk menjadikan Malaysia lebih maju dan bermartabat.

Sepanjang debat berlangsung, baik Najib maupun Anwar sama-sama ingin
memberikan yang terbaik bagi warga Malaysia dan Negara Malaysia. Keduanya bisa
dibilang negarawan kendati berbeda sudut pandang dalam menangani masalah yang
anda. Menyaksikan debat banyak wawasan yang bisa kita dapat. Puan Haslina selaku
moderator bertindak sangat profesional dalam menjalankan tugas memberikan
teguran yang tegas pada peserta debat yang tak taat aturan.

Akhir kata selamat berpolitik yang sehat dan selamat mewujudkan cinta pada negara
lewat politik. Salam persahabatan dari Madura untuk warga Serumpum Malaysia.

Junglorong, 13 Mei 2022

Karya 2

REFORMASI vs TRANFORMASI

Oleh: Hamizun Syah

DEBAT PERDANA melibatkan Dato Seri Anwar Ibrahim dengan Dato Seri Najib Razak
yang selama ini mendebar-debarkan jantung rakyat Malaysia. Akhirnya telah direalisasikan
pada 12.Mei.2022. Debat yang menemukan dua figura hebat di satu pentas yang sama (begitu
diperkenalkan oleh moderator; Puan Haslina Ar Kamarudin). Menurut Puan Haslina lagi
debat ini tidak bertujuankan mencari siapa kalah dan siapa menang. Sebaliknya, Puan Haslina
menegaskan debat perdana ini bertujuankan saling mencari idea menjadikan masa depan
Malaysia lebih baik di masa akan datang.

Ada dua cabang isu telah ditentukan sebagai tajuk debat:
i) Isu Sapura Energy Berhad (SAPURA)
ii) Isu Hala Tuju Masa Depan Ekonomi Maslaysia

Langsung hujah berhujah mengisi ruang podium audio tarif tersebut. Dato Sri Najib
membentangkan sebab-akibat mengapa Sapura Energy Berhad mesti dibantu demi masa
depan ekonomi negara. ‘Sapura’ merupakan salah-satu syarikat tempatan yang menjadi
tulang-belakang industri minyak dan gas. Mempunyai rekod prestasi tertinggi di 20buah
negara. ‘Sapura’ dijaminkan dapat membantu hala tuju masa depan ekonomi negara
seandainya pergelutan dalam ‘Sapura’ diatasi. Sudah tentu hujah-hujah Dato Seri Anwar
Ibrahim adalah sebaliknya. Tidak perlu menyelamatkan ‘Sapura’, lebih bijak sekiranya
menghukum beberapa individu ternama dalam ‘Sapura’ yang menimbulkan pergelutan
terhadap syarikat itu sendiri.. Menurut Anwar lagi, nisbah pembahagian keuntungan ‘Sapura’
lebih tertumpu kepada individu ternama dalam ‘Sapura’.

Dalam debat itu, Najib begitu yakin memberikan jaminan seandainya ‘Sapura’ muflis, negara dan rakyat akan muflis. Pada debatnya pula, Anwar menegaskan bahawa mesti melihat ‘Sapura’ dalam kerangka masalah yang lebih besar, masalah pentadbiran, masalah intergriti, masalah korupsi dan masalah penggunaan kuasa. Masalah besar ini yang mesti diselamatkan terlebih dahulu sebelum dibebankan menyelamatkan ‘Sapura’ yang memberikan keuntungan berbilion kepada ketua eksekutif dan beberapa individu ternama.

Dato Seri Anwar Ibrahim menyebut nama Tunku Ahdul Rahman Putra Al-Haj sebagai
bukti beliau semata-mata membela kepentingan rakyat. Dato Seri Najib terang-terang
menyebut nama bapanya; Tun Razak sebagai isyarat beliau berhasrat meraihkan manfaat ke
atas rakyat. Pasti sekali Dato Seri Najib tidak terlupa menyebut dengan yakin sekali tentang
‘tranformasi’; slogan ulung dalam perjuangan politiknya. Tidak ketinggalan juga, Dato Seri
Anwar mengingatkan tentang ‘reformasi’; landasan perjuangan politiknya. Seakan-akan
dalam karier politik berteraskan prinsip berbeza antara ‘tranformasi’ dan reformasi’ namun
tujuan tetap sama. Sama ada ‘tranformasi’ atau ‘reformasi’ adalah demi kepentingan dan
manfaat ke atas rakyat jelata.

Perjuangan berlandaskan ‘reformasi’ telah dihidupkan oleh seorang ‘bekas banduan’.
Manakala perjuangan berteraskan ‘tranformasi’ didukungi oleh seorang ‘bakal banduan’.
Langsung pendebatan antara ‘reformasi’ dan ‘tranformasi’ sebenarnya adalah pendebatan
antara ‘bekas banduan’ dan ‘bakal banduan’. Apa hebatnya debat perdana antara ‘bekas
banduan’ dengan ‘bakal banduan’? Hasilnya tiada ternampak gagasan idea menentukan hala
tuju ekonomi negara masa depan.

Impaknya debat perdana antara ‘reformasi’ dan tranformasi’ tidak melahirkan sebarang
kata-putus yang bernas terhadap isu SAPURA. Begitu juga tidak ada pencerahan murni
terhadap isu hala tuju ekonomi masa depan. Kemudian terbawa-bawa kepada menunjukkan
parti masing-masing lebih bagus selepas memperoleh mandat daripada rakyat. Solusinya
pentas debat perdana ini langsung tidak memperkasakan penglibatan rakyat dalam mencapai
hala tuju ekonomi masa depan negara yang lebih terjamin. Sekadar mencipta sejarah kosong.

Hamizun Syah
Langgar, Kedah

Karya 3

Debat Dua Figur: Permainan Data dan Retorika
Oleh Muhammad Barcov Firdaus

Debat Perdana yang diselenggarakan oleh Sinar Harian yang menghadirkan Anwar
Ibrahim dan mantan perdana menteri Najib Razak pada kami (12/5) yang disiarkan
melalui berbagai saluran internet, di antara Facebook dan YouTube, boleh disebut sebagai
perdebatan berbasis data dan retorika. Dikatakan berbasis data karena keduanya
menghadirkan data berdasarkan apa yang telah berlaku. Misal, Najib yang menyebutkan
bahwa sektor minyak menyumbang 20/100 dari pendapatan negara, menampung 60 ribu
pekerja, dan peluang pada 40 ribu pedagang untuk menjelaskan seberapa penting Sapura
diselematkan. Pada kesempatan lain, Anwar menyebutkan bahwa 165 ribu syarikat yang
gulung tikar selama ini tidak pernah dianggap masalah, untuk menunjukkan betapa banyak
suntikan kerajaan untuk MRT dari 20, 40, hingga 60 billion Ringgit Malaysia dan DNB, 10,
18, hingga 20 Billion, sementara itu dapat menjadi masalah lain di Malaysia.

Angka-angka terus berlepasan dari keduanya pada hampir semua sesi. Debat berisi
empat sesi (dalam bahasa Malaysia, pusingan), yakni Pusingan Pertama isu Sapura,
Pusingan Kedua adalah Masa depan Malaysia, Pusingan Ketiga adalah soal jawab yang
memberi peluang bagi Najib dan Anwar untuk saling bertanya dan saling memberi
jawaban, dan Pusingan Keempat adalah penggulungan dan pendebat. Banyak sekali
program dalam singkatan yang juga disebutkan secara cepat. Misal, GST, PMB, PNB, ECRL,
HSR, MRT3. Bagi rakyat Malaysia, dengan tempo bicara mereka yang sangat cepat, akan
dipaksa merakit ingatan berkenaan dengan perjalanan perekonomian, politik, dan
kebijakan kerajaan (di Indonesia di sebut pemerintah) dari masa ke masa. Tetapi
demikianlah, masing-masing berbicara dibatasi waktu antara 3-4 menit saja. Aslina AR
Kamarudin sebagai moderator cukup baik dalam mengawal jalannya debat.

Di balik semua angka dan nama yang disebutkan, hal yang sepertinya dapat membuat
penonton sedikit tersenyum, tertawa, atau bahkan jengkel adalah tembakan-tembakan
retorika dari masing-masing pendebat. Najib, misalnya. Ia berkata: ”Saya nak beri
penjelasan berdasarkan fakta yang ada. Bukan retorik. Bukan retorik. Apa fakta yang saya
nak sebut? Ini statistik perangkaandaripada DOSM, Department of Statistics Malaysia, yang
menentukan perbedaan pendapatan antara yang kaya dan miskin. 9 tahun dibawah BN
semakin mengkecil. 22 bulan di bawah PH semakin melebar. Berarti apa? Berarti Dasa BN
lebih adil pada orang miskin daripada dasa kerajaan PH. Ini Fakta. Saya bisa challenge pada
siapa pun. Ini fakta. Ini bukan propaganda. Ini bukan retorika. Ini adalah fakta.”

Hitung berapa kali Najib mengatakan, “ini fakta, bukan retorika”. Itu menandakan ia
sedang beretorika melalui data yang dia miliki. Hal tersebut ia katakan untuk menghadapi
serangan Anwar yang mencabarnya dengan gaya bicara yang cukup satir: “Kalau nak sebut
tentang Tun Rajak, dia bermula dari pembangunan desa. Orang tak bertikai keikhlasan dia.
Orang tak bertikai projek yang memberi keuntungan keluarga atau pribadi. Karena ada
keyakinan di dalam diri rakyat padanya. Sekarang ada masalah. Masalah keyakinan ini dan
keyakinan ini mesti dipulihkan semula. Supaya rakyat dapat bersama kita. Terutama rakyat
berpendapatan rendah yang memerlukan pembelaan yang sebaiknya. Sebab itu, saya
cakap soal pekerjaan nelayan, pertanian, nasib pekerja, soal kos sara hidup yang meningkat. Apapun yang dia sebut kekurangan PH dulu, PH jauh lebih berjaya dalam mengurusi masalah hidup bernegara.”

Audiens tertawa, padahal peraturan debat audiens tidak boleh bertepuk tangan, apalagi
tertawa yang dapat menimbulkan respon emosional di dalam perdebatan. Bahkan
moderator telah mengingatkan, jika ada yang melanggar peraturan, pihak penyelenggara
akan mengeluarkan dari ruang debat. Tetapi yang tertawa banyak. Mengeluarkan banyak
orang yang berpangkat tentu bukan pekerjaan mudah.

“Kadang-kadang berita yang baik tidak enak didengar. Tetapi harus dihadap dan dilihat
harga ayam 2019 dan harga ayam sekarang,” ujar Anwar menutup pernyataan yang
kembali disambut dengan gelak tawa audiens.

Walhasil, perdebatan yang juga didukung oleh tiga media lainnya selain Sinar Harian,
yakni Astro Awani, Malaysia Gazette, dan Sin Chew Daily dapat membuat penonton terus
duduk tanpa kehendak pergi, atau bahkan menahan diri untuk tidak pergi ke kamar kecil
(dalam bahasa Malaysia: tandas). Secara keseluruhan, walau di akhir sesi (pusingan)
tampak keduanya saling mengumpat, baik Najib maupun Anwar dapat menguasai emosi
sehingga perdebatan berjalan lancar. Meski demikian, frame antara keduanya kontras
dalam hal akhir yang ingin didapatkan dari perdebatan.

Najib selalu menekankan bahwa semua persoalan yang ada karena ketidakstabilan
politik untuk menyindir PH yang dia sebut 4 tahun kerajaan, tiga perdana menteri. Secara
retorik ia mengatakan bahwa kestabilan itu hanya mungkin didapatkan jika dia yang
memimpin Malaysia. Dia tidak langsung mengatakan itu, tapi pembicaraannya baik yang
berupa data atau mainan retorika mengarah kesana. Sementara itu, Anwar lebih terarah
pada pengurusan negara, sikap anti rasuah (di Indonesia: korupsi), dan keterbukaan
penggunaan anggaran dengan menerapkan full audit keuangan. Tidak ada satu jalan yang
mempertemukan ide mereka, selain sekali waktu Najib berkata: “Pokoknya, kita kena
kembali kepada asasnya, kestabilan politik dan kita kena buat perancangan yang sebaik-
baiknya. Pendek kata, kita harus letakkan negara kita pada landasan yang betul,” rasanya
itu sama dengan keinginan Anwar Ibrahim.

Siapa yang memenangkan perdebatan? Yang memenangkan perdebatan adalah data dan
retorika. Sepanjang perdebatan, setidaknya audiens dapat memperlajari bagaimana data-
data dihadirkan dalam permainan retorika. Di situ ada ilmunya. Data dan retorika itu tidak
harus selalu benar, karena kita juga dapat belajar dari kesalahan.

Muhammad Barcov Firdaus
Penulis, bergiat di Gaksa: Rumah Sastra ASEAN, Cilegon, Banten.
Email: barcovfirdaus@gmail.com

KEPUTUSAN

22.05.2022.

Ke-1. RM100: Muhammad Barcov Firdaus. “Debat Dua Figur: Permainan Data dan Retorika”. [PAID to Rois 30.05.2022]
Ke-2. RM70: Hamizun Syah. “REFORMASI vs TRANFORMASI”. [PAID 28.05.2022].
Ke-3: RM50: Moh. Ghufron Cholid. “SAPURA ENERGENCY DI MATA NAJIB DAN ANWAR”. [PAID to Rois 30.05.2022]

Tahniah buat para peserta dan pemenang.

TAMAT.