Di kafe yang baru saja tutup
di malam yang lengang.
Dari luar, angin lamban bertiup
masih tersisa dialog yang belum usai
ditanggalkan para pelanggan yang sudah pulang.
Frank Sinatra kuputar amat pelan
sekadar mengisi kekosongan dalam lamunan.
Tiba-tiba malam jadi biru
Tiba-tiba segala beku.
Sepi keterlaluan
melebihi sepi batu-batu.
Lampu-lampu yang lindap di halaman
menyodorkan nostalgia padaku
potretmu kulihat satu-satu
dan terbayang kembali pertemuan itu:
–Anggun langkahmu
tambah juga sedikit malu-malu
seketika cinta tumbuh di ceruk hati, ceruk hidupku–

Lalu malam semakin lengang
mata sudah berkaca
kenangan-kenangan jadi belantara
ini kali aku jalan sendiri
engkau pergi, entah ke mana!
tak kuasa lagi kutahan air mata.
Rindu keras keterlaluan
melebihi keras patah hatiku.

Sekian musim terlewat
kita jauh sudah
tapi cinta menjadi-jadi
–serupa Odys kepada Penelope–
padamu, semua jalan kususuri.

Di kafe yang tutup
di malam yang lengang
kuredam rindu yang siksa
dengan puisi ini, Amarta.

Oleh:

M I Firdaus
Jakarta, 17 Maret 2022
Bunga tumbuh, Amarta.

TAMAT.